Share it

Sabtu, 26 November 2011

Tari Topeng Malangan



         Tari Topeng Malang telah menjadi suatu kebudayaan khusus serta ciri khas yang tersendiri di wilayah Jawa Timur, khususnya kawasan Malang. Di Jawa Timur, tak hanya Karapan Sapi dan Reog Ponorogo saja yang menjadi suatu ciri khas khusus, namun Malang juga memiliki suatu aset pribadi yang telah ada sejak lama, sebut saja Tari Topeng Malang.

       Kesenian Tari Topeng Malang merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan, Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing). Sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik jawa, madura dan bali.
          Konon, tari topeng sendiri diperkirakan muncul pada awal abad 20-an dan berkembang luas semasa perang kemerdekaan. Tari ini adalah perlambang bagi sifat manusia, karenanya banyak model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda, menangis, tertawa, sedih, malu dan sebagainya.
          Biasanya tari ini ditampilkan dalam sebuah fragmentasi hikayat atau cerita rakyat setempat tentang berbagai hal terutama bercerita tentang kisah-kisah panji.
           Di Malang sendiri ada banyak, sentra tari topeng.Salah satunya di dusun kedungmonggo sanggar seni Asmoro Bangun Kecamatan Pakisaji kab. Malang, yang dipegang oleh keluarga mbah karimun (95),tapi berhubung mbah mun sudah sepuh dan sakit sakittan, kerajinan topeng diwariskan oleh istrinya mbah maryam dan cucunya.
       “Sebenarnya, apa ya yang membuat tarian ini menarik?!”, kata-kata itu pasti akan bermunculan pada remaja masa kini. Ya, tentu saja pertanyaan itu akan mereka ajukan, karena pada sisi lain mereka sama sekali tak mengerti cirri khas serta kaindahan dari tarian ini. Tapi, sebagian remaja yang mengaku bahwa dirinya adalah Pecinta Budaya pasti dengan tegas dapat menjawab pertanyaan ini. Tentu saja, kemenarikan tarian ini tumbuh dari kemolekan gerakan, keluwesan penari dalam pembawaannya serta satu hal lagi yang tak akan lepas, yaitu penggunaan costum. “Bagaimana bisa penggunaan costum berpengaruh besar dalam kemenarikannya?”, itukah pertanyaan selanjutnya yang akan disampaikan. Ehm, tentu saja penggunaan costum dalam hal ini dapat berpengaruh besar. Karena suatu tarian tak akan terlihat indah dan menarik apabila costum yang digunakan tak berhubungan dengan inti pada gerakan tarian. Selain itu, para penari Tari Topeng Malang akan menggunakan Topeng khas Malang sebagai pelengkap serta pemanis dalam pertunjukannya.

         Menurut salah satu sumber yang pernah ada, Tari topeng ini telah muncul sejak awal abad ke-20. Dan pada awal kemunculannya, tarian ini banyak diminati oleh kalangan remaja, namun entah kenapa akhir-akhir ini mulai ditinggalkan. Tapi diadakannya Festival Malang Kembali yang telah terlaksana sebanyak empat kali ini telah mulai membuktikan bahwa Tari Topeng Malang ini tak akan pernah luntur dari masyarakat Kota Malang.
        Jadi, tak hanya Tempe ataupun Keripik Tempe yang menjadi ciri khas Malang, tetapi juga kerajinan Topeng Malang yang berkaitan erat dengan munculnya Tari Topeng Malang.
      Yang lebih memprihatinkan lagi adalah banyak remaja yang kini justru merasa gengsi untuk mau mempelajari kebudayaan ini, padahal siapa lagi yang bisa melestarikan kebudayaan ini dan menurunkannya pada generasi-generasi kita berikutnya, selain kita sendiri?!
         Ayo kita introspeksi diri kita agar bisa menghargai dam mencintai kebudayaan kita, bukan hanya kebudayaan kota Malang, tapi semua kebudayaan di Indonesia ..


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar